Saturday, June 6, 2015

Alright

                Seringkali aku menyendiri, menarik diri dari kerumunan. Seakan-akan, aku memang terkesan acuh dan sombong. Ya, maafkan bila pernah merasa disombongi, namun aku tak pernah bermaksud begitu terhadap kalian. Aku merasa lega bila dapat berbagi cerita suka maupun duka terhadap kalian. Aku pun senang bila kalian bercerita kepadaku, aku siap mendengarkan.
                Memang, dari awal aku sadar diri bahwa aku sulit berbaur dengan orang-orang, terutama orang yang baru kutemui. Aku sadar bahwa diriku memang membosankan dalam percakapan atau obrolan. Aku memiliki selera yang aneh bila dibandingkan dengan perempuan-perempuan pada umumnya. Aku remaja yang akan menginjak kepala dua tahun depan, namun masih bersikap kekanak-kanakan, labil, dan cukup polos—padahal nggak polos-polos amat. Perpaduan antara selera aneh dan sifat kekanakan inilah yang membuat diriku kagok untuk berbicara dengan orang lain. Ditambah, aku orang yang pemalu dan tak percaya diri. Biasanya, aku hanya diam saja memandangi mereka, sesekali sambil tersenyum melihat ada yang menggosip, ketawa-ketawa, dan lain-lain. Aku juga ingin mendengarkan obrolan mereka yang kedengarannya memang seru. Namun, aku berpikir bahwa aku pasti tak akan mengerti apa yang mereka bicarakan. Ternyata, sekat-sekat itu telah mengurungkan niatku dan menahanku. Aku menganggap mereka teman-temanku yang baik, pintar, dan lucu, serta sahabat-sahabatku yang hebat dan keren-keren. Namun, apa mereka memilki pandangan yang sama terhadapku? Aku mempercayai mereka, namun apakah mereka sama terhadap diriku? Entah, aku tak tahu harus bagaimana setelah mengetahui kebenarannya yang ternyata ‘tidak’.
                Keberadaan diriku juga tidak ada yang mempedulikan. Mau ada mau tidak, mau hidup mau mati, aku yakin tak ada yang menyadari diriku. Yah, siapa juga yang sudi untuk merindukan orang macam aku ini. Boro-boro dirindu, diingat saja pun tidak. Terkadang pula, aku tak berharap tinggal di dunia ini. Aku terlalu lemah dan payah untuk menghadapi kenyataan yang terlalu kejam bagiku. Ketika berpijak dengan kaki sendiri sudah benar-benar tak sanggup, tanganku mencoba meraih tangan-tangan lainnya agar aku dapat berdiri. Namun, tangan-tangan itu melepaskanku dan meninggalkanku entah ke mana. Mau tak mau, aku harus menyeret diriku untuk menyusul mereka walaupun mereka tetap mengabaikan diriku. Tak peduli seberapa luka yang akan tergores, aku tetap harus menyeret diriku demi mereka. Diri ini memang bodoh, sungguh bodoh.
                Aku baik-baik saja dengan semuanya. Baik-baik saja.

No comments:

Post a Comment