Seringkali
aku menyendiri, menarik diri dari kerumunan. Seakan-akan, aku memang terkesan acuh
dan sombong. Ya, maafkan bila pernah merasa disombongi, namun aku tak pernah
bermaksud begitu terhadap kalian. Aku merasa lega bila dapat berbagi cerita
suka maupun duka terhadap kalian. Aku pun senang bila kalian bercerita
kepadaku, aku siap mendengarkan.
Memang,
dari awal aku sadar diri bahwa aku sulit berbaur dengan orang-orang, terutama
orang yang baru kutemui. Aku sadar bahwa diriku memang membosankan dalam
percakapan atau obrolan. Aku memiliki selera yang aneh bila dibandingkan dengan
perempuan-perempuan pada umumnya. Aku remaja yang akan menginjak kepala dua
tahun depan, namun masih bersikap kekanak-kanakan, labil, dan cukup polos—padahal
nggak polos-polos amat. Perpaduan antara selera aneh dan sifat kekanakan inilah
yang membuat diriku kagok untuk berbicara dengan orang lain. Ditambah, aku
orang yang pemalu dan tak percaya diri. Biasanya, aku hanya diam saja
memandangi mereka, sesekali sambil tersenyum melihat ada yang menggosip,
ketawa-ketawa, dan lain-lain. Aku juga ingin mendengarkan obrolan mereka yang
kedengarannya memang seru. Namun, aku berpikir bahwa aku pasti tak akan
mengerti apa yang mereka bicarakan. Ternyata, sekat-sekat itu telah mengurungkan
niatku dan menahanku. Aku menganggap mereka teman-temanku yang baik, pintar,
dan lucu, serta sahabat-sahabatku yang hebat dan keren-keren. Namun, apa mereka
memilki pandangan yang sama terhadapku? Aku mempercayai mereka, namun apakah
mereka sama terhadap diriku? Entah, aku tak tahu harus bagaimana setelah
mengetahui kebenarannya yang ternyata ‘tidak’.
Keberadaan
diriku juga tidak ada yang mempedulikan. Mau ada mau tidak, mau hidup mau mati,
aku yakin tak ada yang menyadari diriku. Yah, siapa juga yang sudi untuk merindukan
orang macam aku ini. Boro-boro dirindu, diingat saja pun tidak. Terkadang pula,
aku tak berharap tinggal di dunia ini. Aku terlalu lemah dan payah untuk
menghadapi kenyataan yang terlalu kejam bagiku. Ketika berpijak dengan kaki
sendiri sudah benar-benar tak sanggup, tanganku mencoba meraih tangan-tangan
lainnya agar aku dapat berdiri. Namun, tangan-tangan itu melepaskanku dan meninggalkanku
entah ke mana. Mau tak mau, aku harus menyeret diriku untuk menyusul mereka
walaupun mereka tetap mengabaikan diriku. Tak peduli seberapa luka yang akan tergores,
aku tetap harus menyeret diriku demi mereka. Diri ini memang bodoh, sungguh
bodoh.
Aku
baik-baik saja dengan semuanya. Baik-baik saja.
No comments:
Post a Comment