Seperti biasa, kalau buka Facebook paling cuma ngecek notif sama iseng ngescroll
news feed. Sampe gue nyantol sama
satu video yang dishare dari salah satu temen Facebook yang judulnya menggugah
gue untuk membuka video tersebut.
Nih linknya, video berdurasi sekitar 3 menitan:
Kalo males
bukanya, okelah gue ceritain di sini. Sebenernya sih lebih hacep kalo nonton
videonya langsung, tapi gapapalah.
Jadi, di part pertama, ada seorang pria yang ngetes
ke beberapa orang secara acak di foodcourt
dimintain makanan sama pria ini. Pria ini ceritanya kelaparan gitu. Terus, apa respon
mereka setelah dimintain? Nggak ada satu pun yang mau ngasih sedikit makanannya
ke pria itu. Oke, pas di sini gue masih ngerasa biasa aja.
Di part kedua, ada dua orang pria yang
ngetes beberapa homeless secara acak.
Satu pria ngasih makanan ke homeless
tersebut. Habis itu, pria yang ngasih makanan itu pergi. Beberapa menit
kemudian, pria yang lain datang menghampiri homeless
tersebut dan dia meminta makanan dari homeless
tersebut. Pas di sini hati gue trenyuh: homeless
tersebut ternyata mau berbagi makanan dengan pria itu, padahal dia baru aja
dapet makanan itu beberapa menit yang lalu. Padahal, dia punya hak buat pelit
sama pria itu karena dia juga kelaparan, but
only sufferer can understand the suffering. Padahal, dia termasuk orang
yang ‘tangan di bawah’. Hebatnya, dia bisa melakukan apa yang seharusnya orang ‘tangan
di atas’ lakukan.
Gue diem. Gue malu sama diri gue sendiri. Gue yang jauh lebih lebih lebih beruntung dari homeless itu kadang masih acuh sama orang lain. Intinya, keegoisan masih menjadi pemenang di dalam diri gue. Sekian
No comments:
Post a Comment