Wednesday, February 15, 2017

Unfaeda

Begitu usang blog ini :( Tersadar sekian menit yang lalu bahwa masih punya blog, akhirnya saya mampir sebentar di sini. Ingin berkata yang mengandung faeda tapi kudu mikir, ingin curhat biar tanpa mikir tapi tak berfaeda. Pokoknya hidup bahagia sehat lancar kuliah dan rejeki berlimpah sudah lebih dari cukup (?) Faeda tak faeda urusan belakangan lah wgwgwg.

Friday, June 24, 2016

[Review] Hunting HP

Sekitar sebulan yang lalu, gue beli HP baru karena alasan klise: HP yang lama rusak. HP gue mati total, nggak bisa dibangkitkan kembali nyawanya. Nggak gue benerin ke service center karena sebelumnya HP gue juga pernah layarnya pecah dan dibawa ke service center. HP gue harus diganti layarnya dan itu menguras ATM, beli layar baru plus ongkos servisnya  kena 1 juta lebih. Gue males bawa-bawa lagi ke tukang servis buat benerin HP terus ngeluarin uang lagi, mending beli HP baru sekalian.

Pas ada kesempatan balik ke rumah, gue coba ngomong ke Emak buat beli HP baru *maafin ya, Mak, HP emang dibutuhin banget soalnya huhuhu*. Akhirnya, Emak gue mengiyakan dan gue langsung buka Google. Karena gue anak yang tau diri, gue berusaha sekeras mungkin mencari HP berspesifikasi tinggi dengan harga semiring mungkin, kisaran dibawah 2 juta.

Merek pertama kali yang terlintas di pikiran gue adalah Xiaomi, soalnya salah satu teman gue pernah bilang katanya merek itu lagi ngehits dan bagus. So, gue coba cari tahu tentang Xiaomi itu. Setelah ditelusuri, gue menemukan salah satu seri Xiaomi yang membuat gue terpikat, yaitu Xiaomi Redmi 3. Gue cek di beberapa web ponsel dan toko belanja online, harga Xiaomi Redmi 3 waktu itu dibandrol sekitar 1,8 jutaan. Terus, gue cek spesifikasinya, dan batin gue langsung teriak-teriak 'ini nih yang gue cari'. Dengan harga segitu gue udah dapat:
  • Primary camera 13 MP
  • Secondary camera 5 MP
  • RAM 2 GB;
  • Memori internal 16 GB;
  • microSD bisa sampai 256 GB;
  • Baterai kapasitas cukup gede yaitu 4100 mAh, jadi nggak perlu khawatir baterai cepat habis;
  • Fast charging, cukup 2-3 jam baterai udah terisi full dan nggak perlu semalaman buat mencharge baterai.
Akhirnya, gue simpan dulu Xiaomi Redmi 3 di daftar opsi.

Setelah itu, gue cari-cari lagi HP merek lainnya sebagai perbandingan, kali aja gue menemukan yang lebih bagus dari opsi pertama *konsumen anti rugi*. Lenovo, cari spec yang setara sama Xiaomi Redmi 3 harganya pada mahal-mahal, di atas 3 juta. Asus juga sama aja, kalau yang murah specnya malah jelek. Ya iyalah, dapat HP branded dengan spec tinggi tapi harga murah bagai pungguk merindukan bulan. Fix, Lenovo dan Asus gue coret dari opsi. Lalu, gue coba cari Huawei dan LG, berharap menemukan yang lebih bagus. Ternyata, justru malah lebih mahal, dengan spec yang beda-beda tipis sama Xiaomi Redmi 3. Rata-rata harganya kena hampir 4 juta-an.

Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya keputusan terakhir jatuh kepada Xiaomi Redmi 3. Esoknya, gue bersama keluarga cus ke salah satu mall di Cilegon, lalu survei ke beberapa tempat, dan akhirnya beli di salah satu konter HP yang ada di sana. Gue kena harga 1,95 juta, sudah termasuk anti gores dan casing silikon. Alhamdulillaaaaah. Oh iya, Xiaomi Redmi 3 ini juga ada beberapa kekurangan:
  • Baterai non-removable, ya kalo baterainya gembung atau rusak harus dibawa langsung ke tukang servis, nggak bisa beli baterai yang baru kayak baterai yang removable terus kita ganti sendiri baterainya (kalau yang ini asal pemakaiannya benar dan nggak over, tahu diri kalau HP udah kerasa panas harus berhenti dulu pakai HP, insya Allah baterai tetap awet)
  • Nggak dapat headset (pinjam punya adik atau nggak beli yang murah-murah *LOL* *gak modal abis*)
  • Karena nggak ada slot khusus buat micro SD-nya, jadi ditaruhnya di slot SIM card 2. Jadi, buat slot Dual SIM diisi dengan pilihan SIM card 1-SIM card 2 atau SIM card-micro SD (untungnya, gue ada hp jadul, jadinya SIM yang satu lagi buat hp jadul itu hehehe)
Yang lagi cari HP nggak branded tapi cari spesifikasi high harga low bisa intip review gue ini wkwkwk *iklan*.

Sunday, June 5, 2016

Bhak

Detik-detik menuju hari pertama uas. Gue belom nyentuh materi sama sekali karena gue gak ngerti apa-apa tentang materinya. Banyak rumus pula. Kalo ngerti sih gue bisa-bisa aja, lah ini aja basicnya gimana gue kaga paham. Nanya sana-sini, gak ada yang respon, mau minta ajarin, takut ngeganggu pada belajar. Finally end up with nulis beginian. Mana otak gue bebalnya lagi kumat. Ampun dah, entar gue ngisi apaan pas ujian haaaaaaf :”(. Termenung di atas kasur, maklum lah ya bukan orang pinter, jadi gabisa gini aja paniknya udah setengah mati :(.

Saturday, October 17, 2015

3rd Semester Attack

"Nikmati dan rasakan sensasinya."

                Kata-kata yang sangat pas buat keadaan semester 3 yang sedang gue jalani saat ini. Yap, ini baru permulaan. Baru awal, tapi keadaan udah mawut-mawut kayak gini. Ngeliat deadline bejibun bikin nggak bisa napas. Praktikum nggak tanggung-tanggung, sekarang udah mulai 3 matkul dari 7 matkul yang ada. Empat lagi akan menyusul, gue tunggu :")
                Kadang, pas lagi ngerjain laprak, ilmunya berasa lewat aja. Harusnya praktikum dan laporannya itu bikin gue makin paham sama apa yang udah dipelajarin. Nyatanya? Ngerjain laprak aja niatnya cuma 'yang penting selesai, bodo amat' bukan 'gue harus paham, harus ngerti.' Kok gue ngerasanya praktikum plus laporannya itu agak useless ya, ya walaupun berguna juga sih (?) Semuanya berguna kok, nggak ada yang sia-sia. Tapi, nggak tau deh, gue ngerasa hampa aja gitu ilmunya walaupun udah ketambahan praktikum sama laporan segala, yang harusnya bikin gue makin ngerti sama materi-materi matkul yang gue pelajarin. Atau emang guenya ya yang lemot dan susah buat ngerti, harap maklum otak pas-pasan, ngepas banget malah ._.
                Kalau dibawa ngeluh, ya gue bakal ngeluh terus sepanjang semester ini. Kalau mau nangis, ya gue jabanin dah ngerjain laprak yang ga kelar-kelar sambil nangis-nangis. Tapi percuma, ga bakal nyelesaiin laprak gue.

"You are not alone."
"Laa yukallifullahu nafsan illaa wus'aha."
"Udah kecemplung, kelarin aja."

                Kata-kata itu yang bisa bikin gue bertahan untuk nggak ngeluh-ngeluh masalah laprak. Mau lari dari kenyataan, tapi emangnya mau lari ke mana? Lari ke pasar? HAHAHAHA.

                Sekarang Sabtu malem, yak? Nah, tadi Sabtu jam setengah 3 pagi gue baru aja ngelarin tugas pendahuluan praktikum salah satu matkul, dan praktikumnya dimulai jam 9 paginya. Dari Jum'at sore sampe Sabtu pagi gue terlalu fokus mengerjakan 30 lembar tugas pendahuluan tulis tangan. Saking tangan nggak berhenti-berhenti nulis, jempol gue sampe kapalan dan akhirnya gue plester. Udah kelar, gue langsung ngacir ke burjo. Iya, gue jam 3 pagi makan di burjo gegara laper banget ga makan-makan selama ngerjain tugas pendahuluan, dan amunisi gue waktu itu cuma air putih wkwkwkwk. Gue nggak bisa minum kopi, nggak kuat sama efek pasca minum kopi.
                Semester ini gue nggak mau ada kata baper, entah kalo laporan direvisi, praktikumnya lama, dll. Ya, selama yang direvisi itu emang salah dan kesalahannya nggak diada-adain, it's okay. Kalo emang sedikit atau banyak yang direvisi, yaudahlah ya gue emang bukan mahasiswa dewa. Namanya juga lagi belajar, salah itu pasti ada. Emang udah resiko kalo salah harus dibetulin, malah suruh tulis ulang kalo fatal misalnya *jangan sampe gue kayak gitu*. Kalo praktikumnya lama dan melelahkan, yaudah lah yang lain juga sama kok kayak gitu, mereka juga kedapetan. Kalem aja, cuma beberapa bulan doang kok masa-masa kerja rodinya, cuma beberapa bulan. Bulan Januari udah libur, kan? Cepet kok nggak bakal kerasa~ Berjuang, makanya! :”)

Sunday, September 27, 2015

Comp Throwback


Two years ago. Suka senyum-senyum sendiri kalo liat video ini. Cipeh alias Syifa yang kalo nyanyi, ah nggak usah ditanya lah di mah, hidden X-Factor talent. Pas dia nyanyi, penontonnya pada heboh nyorak-nyorakin dia, "Fatin, Fatin!" Yang paling ngakak itu pas bagian Adli yang nyanyi. Si Abang ini sebelumnya udah ngasih tau konsep tampil seghorib (re: seaneh) mungkin. Ternyata, pas eksekusi konsepnya langsung di panggung, gue nggak nyangka asli jadi ghorib banget dan gue pun cuma bisa nahan tawa sambil main piano. Miss Tya yang ngerekam aja geleng-geleng sendiri ngeliat kelakuan dia di panggung hahaha. 

Thursday, August 13, 2015

[Repost] Mahasiswa Ambis? Cek Dulu

Ada sekelompok golongan kawan-kawan mahasiswa yang menjadi sisi lain tersendiri dari kehidupan kampus. Kawan-kawan kita ini tenggelam diantara orasi para aktivis dan buaian para hedonis.

Dalam perspektif aktivis, kawan-kawan ini tak ubahnya seperti batu. Seakan kuliah hanya untuk akademik, sangat sulit di ajak bergerak. Nama mereka juga sangat asing dalam dinamika pemerintahan kampus, apalagi pergerakan mahasiswa antar universitas.

Di mata para hedonis, kawan-kawan kita ini seperti artefak tua. Tak pernah mau di ajak jalan-jalan atau sekedar mencoba tempat makan baru. Gaya pakaiannya pun ketinggalan jaman. Pantas mereka disebut artefak.

Lalu, di mana peran kawan kita tersebut dalam kehidupan kampus? Hampir tidak ada. Kecuali bagi segelintir orang.

Tetapi, walau di kampus hanya sedikit orang yang mengetahui ‘keberadaan’ mereka, di rumah mereka adalah pahlawan, rela pergi jauh-jauh merantau meninggalkan gubuk tua di kampung demi memperjuangkan nasib keluarga.

Tak usahlah neko-neko berpikir tentang kondisi bangsa, kondisi ayah emak adik kakak di kampung sudah cukup jadi beban pikiran. Selain itu jg tak terpikirkan sedikitpun dalam otak kawan-kawan ini untuk bersikap konsumtif. Mereka tidak ingin jd anak durhaka dengan bisa makan enak sedang keluarganya di rumah melarat.

Kawan-kawan ini mati-matian mengejar IP tinggi demi bisa melanjutkan sekolah di luar negeri atau bekerja di perusahaan multinasional. Semuanya demi keluarga, bukan untuk bangsa. Untuk apa memperjuangkan sesuatu yang padahal darinya kemelaratan berawal? Entah disadari entah tidak, bangsa yang membuat dan ‘merawat’ teman-teman kita ini.

Lalu tiba-tiba, macam penampakan setan, muncul orang-orang 'sok’ aktivis yang menunjuk-nunjuk ke mereka, mengatakan mereka 'budak asing’, 'penjual negara’, 'tidak ada idealisme’, dan kalimat sepantaran lainnya.

Coba dicek, tabayyun dulu. Pun belum tentu yang menunjuk-nunjuk itu tahan jika diposisikan sebagai kawan-kawan kita ini, kawan yang sudah babak belur dihajar dengan realita bangsa sebenarnya.

Kawan-kawan inilah orang-orang 'syahid’ yang berjalan di muka bumi. Kisah mereka juga mungkin lebih penuh semangat ketimbang orasi-orasi mahasiswa yang mengklaim dirinya aktivis.

Kurnia Sandi Girsang
PU Majalah Ganesha ITB 2015-2016
Tabayyun (y)

Tuesday, August 11, 2015

Kayoobi

                Akhirnya, belajar nyetir lagi setelah terakhir latihan waktu liburan semester 1 kemaren, dan itu pun cuma latihan dua kali -_-. Kali ini, pas gue ada mood buat belajar dan pas gue bilang ke emak kalo gue mau nyoba nyetir lagi, emak langsung semangat dan langsung mandi plus siap-siap. Sebelum belajar, gue sama emak nyarap dulu di SD-nya Vina, iya di depan SD kan ada yang jualan makanan, yaudah akhirnya sarapan di sono. Nyarap gado-gado sambil nimbrung-nimbrung dengerin Emak sama ibu-ibu yang juga nongki-nongki di depan SD lagi ngobrolin macem-macem. Sampe ada yang nyeletuk, "Ih, si Nanda mah ngobrolnya sama ibu-ibu." Gue bales aja, "Yaiyalah, kan calon ibu, nanti juga bakal jadi ibu-ibu."

                Abis nyarap, Emak langsung tancap gas ke lapangan di sebelah Stadion KS. Lapangannya dibilang luas lah kalo buat belajar nyetir, apalagi buat newbie-newbie macem gue. Anyway, gue belajar pake yang matic. Kata Emak, ngapain pake yang manual kalo udah ada matic yang gampang. Pikir gue, iya juga ya ngapain rempong-rempong kalo udah ada yang gampang mah wkwkwk. Pas udah nyampe di lapangannya, gue sama Emak langsung tukeran seat. Habis itu, langkah selanjutnya adalah ngidupin mesin, nyalain AC sama sirkulasi udara, injek rem, mindahin posisi persneling dari 'P' ke 'D', tekan handrem ke bawah, lepas rem, dan injek gas pelan-pelan. Gue nyetir ngelilingin lapangan, sambil belajar belok pake lampu sein. Letak sein ada di sebelah kanan setir, buat nyalain sein ke kanan ditekan ke bawah, sedangkan kalo nyalain sein ke kiri ditekan ke atas. Ya gue ngetik ini juga sambil nginget-nginget biar nggak lupa wkwkwk-_-.

                Udah lumayan bisa haluan, langkah berikutnya adalah belajar mundur. Agak-agak kagok gue pas mundurin mobil -_-. Kata emak liat spion aja, kepalanya nggak usah noleh-oleh ke belakang. Sebagai newbie, sebenernya gue rasanya masih ragu-ragu kalo ngeliat spion doang, tapi yaudah lah gue cobain buat cuma liat spion doang tanpa noleh-noleh ke belakang. Setelah dicoba beberapa kali udah lumayan bisa, akhirnya gue menuruti instruksi Emak selanjutnya yaitu turun ke jalan. Jalanan komplek sih bukan jalan raya wkwkwk. Untungnya, jalanan komplek KS waktu itu lagi sepi, jadi ya berani-berani aja gue.

                Udah tuh nyobain di jalan, pas ada puteran balik, gue bilang ke Emak, "Ma, nyobain puter balik ya." Emak gue ngeiyain, akhirnya gue langsung puter stir ke kanan sepol-polnya sambil dengerin arahan dari Emak. Eh, pas udah berhasil muterin balik mobil, gue lupa muterin balik setirnya ke posisi semula. Alhasil, mobil jadinya nabrak pembatas jalan. Bukan nabrak sih, ban bagian depan kanan jadinya naik ke atas gitu, naikin pembatas jalannya. Langsung gue rem dan gue serahin ke Emak buat menormalkan posisi mobil. Agak panik sih, tapi untungnya ada Emak jadi semua bisa teratasi ._. Pas posisi mobil udah normal, gantian gue lagi yang nyetir sampe ke lapangan. Dan sesi belajar nyetir hari ini bersama Emak dirasa udah cukup.

                Sore-sore, gue cek LINE dan chat group emang selalu menempati posisi teratas chats room. Yah, namanya juga jomblo, siapa sih yang mau ngechat gue selain dari chat group sama iklan-iklan dari official account.... Oke gue malah curhat -___-. Buka chat grup ose, ternyata ada pengumuman kalau nilai Mekanika Fluida udah keluar. Gue langsung buka siakad sambil komat-kamit baca bismillah, dan apa hasilnya? C. Gue cuma bengong, kok bisa?! Padahal dibanding matkul yang lain, gue paling yakin matkul ini pasti bakal dapet bagus soalnya gue emang bisa ngerjainnya. Akhirnya gue nanya-nanya ke temen-temen yang lain gimana, dan ternyata emang banyakan yang dapet C. Sedikit melegakan lah, seenggaknya gue nggak sendirian huahahaha. Tapi nggak ngerti lagi deh, seenggaknya dapet B gitu, gue yakin jawaban gue bener hiks -_____-. Ah, sungguh menyebalkan. Udah gitu, yang dapet C justru malah orang-orang yang nggak terduga sama sekali, ketidakngertian gue semakin bertambah. Pas gue ngomel-ngomel nilai gue disisipin vitamin C, Emak gue ketawa-ketawa aja. Fix perbaikan inimah pas semester 6 huah. Ah, ya sudahlah, hanya dosen dan Allah yang bisa menentukan....