Ah, jam sebelas lewat
Kusapukan pandangan ke seluruh ruangan
Penghuni kamar masih terjaga
Tak henti-hentinya meresapi buku-buku tebal
Diselingi cekikikan dan tawa
Kopi susu dan mi instan jadi pengganjal perut
Aromanya menggelitik hidung
Juga sebagai penghapus suntuk
Sembari menanti pergantian hari
Aku dan mereka manusia tengah malam
Bahkan dini hari
Walau kasur terus merayu
Tak boleh, harus kuat
Tak boleh kalah dengan godaan
Aku harus siap bertarung di arena
Pukul setengah delapan esok
Satu per satu menyerah pada larutnya malam
Mengadu dalam dunia diri
Tinggal aku seorang diri berselimut dingin
Seketika sunyi terasa
Suara kodok bersahutan-sahutan di luar
Semua telah terlelap dengan nyenyak
Mulutku terus menguap
Akhirnya, kuucapkan selamat tidur
Selepas sholat Subuh
Buku-buku langsung dijamah lagi
Rapalkan kembali kata-katanya
Hitung lagi, kali ini harus lebih kilat
Ingat lagi rumus jitunya
Jam setengah delapan semakin merapat
Seragam telah terpasang di badan
Pensil sudah tersimpan di dalam tas
Tak lupa tunaikan sholat Dhuha
Harap kelancaran serta kemudahan
Kuraih sepatu kulit dari rak
Aku siap melunakkan kerasnya soal ujian
Doakan aku, Mama
Doakan aku, Ayah
Aku benar-benar mohon restumu
Semoga peluh keringat ini terjawab
Dengan hasil yang melegakan hati
No comments:
Post a Comment