Ada sekelompok golongan
kawan-kawan mahasiswa yang menjadi sisi lain tersendiri dari kehidupan kampus.
Kawan-kawan kita ini tenggelam diantara orasi para aktivis dan buaian para
hedonis.
Dalam perspektif aktivis,
kawan-kawan ini tak ubahnya seperti batu. Seakan kuliah hanya untuk akademik,
sangat sulit di ajak bergerak. Nama mereka juga sangat asing dalam dinamika
pemerintahan kampus, apalagi pergerakan mahasiswa antar universitas.
Di mata para hedonis, kawan-kawan
kita ini seperti artefak tua. Tak pernah mau di ajak jalan-jalan atau sekedar
mencoba tempat makan baru. Gaya pakaiannya pun ketinggalan jaman. Pantas mereka
disebut artefak.
Lalu, di mana peran kawan kita
tersebut dalam kehidupan kampus? Hampir tidak ada. Kecuali bagi segelintir
orang.
Tetapi, walau di kampus hanya
sedikit orang yang mengetahui ‘keberadaan’ mereka, di rumah mereka adalah
pahlawan, rela pergi jauh-jauh merantau meninggalkan gubuk tua di kampung demi
memperjuangkan nasib keluarga.
Tak usahlah neko-neko berpikir
tentang kondisi bangsa, kondisi ayah emak adik kakak di kampung sudah cukup
jadi beban pikiran. Selain itu jg tak terpikirkan sedikitpun dalam otak kawan-kawan
ini untuk bersikap konsumtif. Mereka tidak ingin jd anak durhaka dengan bisa
makan enak sedang keluarganya di rumah melarat.
Kawan-kawan ini mati-matian
mengejar IP tinggi demi bisa melanjutkan sekolah di luar negeri atau bekerja di
perusahaan multinasional. Semuanya demi keluarga, bukan untuk bangsa. Untuk apa
memperjuangkan sesuatu yang padahal darinya kemelaratan berawal? Entah disadari
entah tidak, bangsa yang membuat dan ‘merawat’ teman-teman kita ini.
Lalu tiba-tiba, macam penampakan
setan, muncul orang-orang 'sok’ aktivis yang menunjuk-nunjuk ke mereka,
mengatakan mereka 'budak asing’, 'penjual negara’, 'tidak ada idealisme’, dan
kalimat sepantaran lainnya.
Coba dicek, tabayyun dulu. Pun
belum tentu yang menunjuk-nunjuk itu tahan jika diposisikan sebagai kawan-kawan
kita ini, kawan yang sudah babak belur dihajar dengan realita bangsa
sebenarnya.
Kawan-kawan inilah orang-orang
'syahid’ yang berjalan di muka bumi. Kisah mereka juga mungkin lebih penuh
semangat ketimbang orasi-orasi mahasiswa yang mengklaim dirinya aktivis.
Kurnia Sandi Girsang
PU Majalah Ganesha ITB 2015-2016
Tabayyun (y)
No comments:
Post a Comment