Friday, February 22, 2013

Empat Belas Februari


Ini adalah kisah yang telah penuh debu. Musim hujan dan gugur kemarau telah kulewati, hingga akhirnya genap satu tahun berlalu. Berlalu tertiup angin. Namun, kisah berdebu ini tak akan mudah tertiup dari ingatanku. Dari memoriku. Dari hatiku.
Empat belas Februari dua ribu dua belas. Ah, siapa yang tahu kapan dan kepada siapa perasaan akan bergejolak. Sadar, perasaan hati adalah sesuatu yang cukup aneh bagiku, dan aku selalu bersikeras untuk menghindarinya. Namun, dengan magnetnya, mau tak mau, aku tertarik dan terperangkap dalam medan magnetnya. Dia berhasil menarik hatiku dengan pesonanya.
Biji kakao dan lembaran-lembaran papirus mini itu menjadi suguhan istimewa pada hari itu. Tanganku gemetar, wajahku gugup penuh peluh saat menerimanya. Rangkaian sajak-sajak indah yang ia goreskan di atas papirus itu, khusus untuk diriku. Antara bingung dan bahagia. Tetapi, bahagia lebih tebal menyelimuti kebingunganku. Bibirku membentuk seulas senyum, aku dapat membaca isi hatinya. Aku mengerti.
Sepanjang musim hujan dan gugur kemarau, diriku diterpa badai, angin, panas, dan kilat. Menginjak hari ke tiga ratus enam puluh lima, biji kakao itu menjadi pahit dan asam, lembaran-lembaran papirus bertinta sajak pun kini berwujud serpihan dan bertebaran entah kemana. Seperti bayangannya yang kini entah kemana. Semuanya sirna sudah. Setahun cukup membuat hati berubah. Berubah drastis. 
                                                                     
Kini aku melewati musim-musimku tanpa dirinya.


No comments:

Post a Comment