Ini adalah
kisah yang telah penuh debu. Musim hujan dan gugur kemarau telah kulewati,
hingga akhirnya genap satu tahun berlalu. Berlalu tertiup angin. Namun, kisah
berdebu ini tak akan mudah tertiup dari ingatanku. Dari memoriku. Dari hatiku.
Empat belas
Februari dua ribu dua belas. Ah, siapa yang tahu kapan dan kepada siapa
perasaan akan bergejolak. Sadar, perasaan hati adalah sesuatu yang cukup aneh
bagiku, dan aku selalu bersikeras untuk menghindarinya. Namun, dengan
magnetnya, mau tak mau, aku tertarik dan terperangkap dalam medan magnetnya.
Dia berhasil menarik hatiku dengan pesonanya.
Biji kakao dan
lembaran-lembaran papirus mini itu menjadi suguhan istimewa pada hari itu.
Tanganku gemetar, wajahku gugup penuh peluh saat menerimanya. Rangkaian
sajak-sajak indah yang ia goreskan di atas papirus itu, khusus untuk diriku.
Antara bingung dan bahagia. Tetapi, bahagia lebih tebal menyelimuti
kebingunganku. Bibirku membentuk seulas senyum, aku dapat membaca isi hatinya.
Aku mengerti.
Sepanjang
musim hujan dan gugur kemarau, diriku diterpa badai, angin, panas, dan kilat.
Menginjak hari ke tiga ratus enam puluh lima, biji kakao itu menjadi pahit dan
asam, lembaran-lembaran papirus bertinta sajak pun kini berwujud serpihan dan
bertebaran entah kemana. Seperti bayangannya yang kini entah kemana. Semuanya
sirna sudah. Setahun cukup membuat hati berubah. Berubah drastis.
Kini aku
melewati musim-musimku tanpa dirinya.
No comments:
Post a Comment